oleh

45 Desa Di Trenggalek Berpotensi Longsor, Terbanyak Kecamatan Pule

TRENGGALEK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur memperingatkan warganya akan adanya potensi bencana longsor yang mengancam pemukiman warga di 45 desa 10 kecamatan yang memiliki kontur wilayah perbukitan.

“Secara keseluruhan ada banyak titik krusial rawan longsor yang harus diwaspadai sejak sekarang,” kata Sekretaris BPBD Trenggalek, Tri Puspita Sari di Trenggalek, Selasa.

Selain potensi curah hujan dengan intensitas tinggi sebagaimana yang telah diumumkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ia merujuk data sebaran kasus longsor yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ia menjelaskan ke-10 kecamatan yang memiliki titik-titik rawan longsor itu adalah Kecamatan Watulimo, Tugu, Trenggalek, Pule, Panggul, Munjungan, Kampak Durenan, Dongko dan Kecamatan Bendungan.

Di Kabupaten Trenggalek sendiri ada saat ini ada sebanyak 152 desa dan 5 kelurahan di 14 kecamatan.

Untuk titik terbanyak potensi rawan longsor saat musim penghujan dari 45 desa tersebu, kata dia, ada di Kecamatan Pule dengan jumlah sebanyak 10 desa.

Titik rawan longsor itu berada di Desa Joho, Jombok, Karanganyar, Kembangan, Pakel, Kembangan, Pule, Sidomulyo, Sukokidul dan Desa Tanggaran.

“Berdasarkan informasi dari BMKG sebenarnya saat ini Pulau Jawa khususnya Trenggalek belum memasuki musim penghujan. Namun ada beberapa kabupaten yang berpotensi terjadi hujan namun bersifat lokal,” katanya.

Untuk meminimalisasi risiko bencana itu, BPBD sudah mengambil beberapa langkah, di antaranya adalah memberikan beronjong kepada desa rawan longsor, mengajukan anggaran untuk rehabilitasi dan rekonstruksi kerusakan akibat bencana ke BNPB dan BPBD provinsi hingga meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana.

“Yang lebih penting meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah rawan bencana dengan pembentukan Destana (Desa Tangguh Bencana), dan juga pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan pemasangan rambu jalur evakuasi,” katanya.

Mengacu evaluasi yang dilakukan BPBD bersama tim reaksi cepat atau relawan tiap tiga bulan sekali, banjir ataupun tanah longsor di Trenggalek disebab curah hujan tinggi di daerah pegunungan.

Untuk itu, koordinasi semua pihak termasuk peran serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk penanggulangan bencana, demikian  Tri Puspita Sari.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.